Jumat, 11 Maret 2016

Sentilan Tubuh

Tiga bulan lalu, dada saya terasa sakit. Saya kesulitan untuk mendeskripsikan rasa sakit itu. Kadang seperti tertekan, disertai sesak. Acap kali seperti terbakar dan dibarengi batuk-batuk. Sebenarnya, ini sudah terjadi beberapa bulan belakangan. Hanya saja, tiga bulan terakhir ini intensitasnya makin sering dan berat, padahal saya sudah berhenti merokok dan minum alkohol. Saya putuskan ke dokter umum, teman masa SMA, untuk mengkonsultasikan masalah saya.

"Setelah mendengarkan ceritamu, saya menduga 99% kamu menderita penyakit jantung," katanya dengan tenang. Lalu, menyarankan model diagnosa jantung yang harus dilakukan. Ia meminta saya untuk tes darah dan treadmill di laboratorium swasta yang terletak di Jalan Diponegoro, Denpasar. 

Hasil tes itu tidak sesuai dugaannya. Tes darah negatif (tidak ada masalah jantung). Sedangkan, tes treadmill juga negatif, meski ada catatan bahwa hasil treadmill memerlihatkan saya punya potensi mengidap penyakit jantung. Itu artinya perlu dilakukan tes yang lain untuk memastikan. Salah satunya, memasukkan kamera ke pembuluh darah saya. 


Saya sebenarnya gamang. Satu sisi, saya seperti divonis, bahwa saya menderita penyakit jantung, yang berarti: waktu saya tidak lama lagi, bisa meninggal atau stroke sewaktu-waktu, membutuhkan biaya besar dan gaya hidup yang sulit agar saya bisa bertahan hidup lebih lama. Itu yang membuat saya senang sebenarnya dengan hasil tes darah dan tredmill yang negatif. 


Jumat, 29 Agustus 2014

Jam Session Bareng Jokowi



"Jokowi itu sebenarnya biasa saja, dia melakukan apa yang memang menjadi mandatnya. Hanya saja, dia  melangkah ke depan sementara yang lainnya jalan mundur."

Entah siapa yang mengatakan kalimat di atas. Saya lupa. Saya juga tidak bisa lagi mengingat di media mana saya membacanya. Hanya saja yang pasti, kalimat itu seperti menjelaskan ketertarikan saya pada sosok ini. Kemudian hari, saya memutuskan untuk memihak dan memilihnya menjadi presiden agar bisa memimpin saya dan bangsa Indonesia untuk berjalan maju. Melangkah ke depan.

Sekarang, Jokowi sudah terpilih jadi presiden. Cukup bagi saya. Urusan lainnya, saya pikir dia tahu apa yang harus dilakukan. Urusan saya adalah kembali bekerja, memberikan kontribusi sekecil apapun untuk perubahan sosial. Mencoba berlatih  untuk mengikuti langkah-langkah sang presiden pilihan saya. Sehingga, pada saat waktunya tiba, kita dapat memainkan semua potensi dan  keterampilan yang kita latih saat jam session nge-band, dengan Jokowi sebagai lead guitar-nya.

Berinovasi membangun negeri, seraya bergembira.

Alangkah menyenangkannya.

Senin, 10 Februari 2014

Hujan dan Kampungku

Musim hujan biasanya berlalu begitu saja, tapi tidak kali ini. Mendadak, aku teringat kenangan masa kecil di Kampung Baru, Desa Landasan Ulin, Kalimantan Selatan.

Hujan di kampung pasti disambut suka cita. Anak-anak akan berlarian ke halaman rumah atau jalanan di tengah-tengah kampung menyambut guyuran butir-butir air tebal yang rapat dan cepat, seperti siraman shower di kamar mandi hotel bintang lima.  Gaya busana bisa macam-macam, dari yang telanjang bulat hingga mengenakan pakaian lengkap.

Menurutku, mandi hujan di kampung waktu itu berbeda dengan mandi hujan di tempat-tempat lain beberapa waktu kemudian. Air yang membasahi tubuhku dan kadang tercecap lidah terasa segar dan murni. Aku bisa berlama-lama diam mematung di halaman hanya untuk menikmati serbuan titik hujan di tubuhku. Nikmat!

Kamis, 30 Januari 2014

Meluncur Ke Belakang




Suara mereka seperti menggeram saat merambat di jalan menanjak berliku. Sesekali, berubah menjadi dengusan yang tersengal-sengal manakala kehabisan tenaga. Sosok mereka tak tampak jelas, hanya bayang-bayang hitam timbul tenggelam samar di tebal kabut kawasan kaki Gunung Batur, Kintamani, Bali.  Perlahan mendekat melalui getaran di tanah lebih dulu, bayang-bayang itu merobek kabut dan memunjukkan wajah aslinya. Truk-truk pengangkut pasir dan batu galian.

Rabu, 29 Januari 2014

Selamat Tahun Baru!


Aku, Mama, dan Imlek

Imlek cuma peringatan hari pergantian tahun. Mestinya disambut gembira, dirayakan besar-besaran, digantungi harapan. Bukan disambut dengan perasaan takut atau  was-was. Tapi,  di Indonesia selama 30 tahun Imlek menjadi kegiatan terlarang yang hanya boleh dirayakan dalam keluarga dan di tempat tertutup. 

foto: Indra Hidayat


Aku tidak pernah merayakan imlek. Jadi agak bingung kalau mendekati perayaan Imlek sekarang ini. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, padahal istriku dan keluarganya sedang bersiap-siap menyambut tahun baru Cina ini. Dari kecil, aku memang tidak kenal Imlek. Menurut mama, semenjak  menikah dengan papaku, ia meninggalkan semua adat tradisi Cina di belakangnya. Ia menjadi seorang pemeluk Katolik yang taat. Bukan cuma imlek yang disingkirkannya, tapi semua adat istiadat keluarganya. Tak pernah aku tahu mama bikin sembahyang yang rutin seperti Ceng Beng atau yang besar macam Gwan Siau. Bagi dia, sembahyang adalah dengan pergi ke gereja setiap hari, doa rosario setiap malam pada Mei dan Oktober, serta  Novena Tiga Salam Maria setiap ada persoalan berat dalam keluarganya. 

Minggu, 26 Januari 2014

Balichinesia: Membuka "Sakit" Masa Lalu

Ketika mulai melakukan riset awal terkait Balichinesia (lihat Balichinesia: Studi Praktek Multikulturalisme), aku seperti terguncang-guncang melewati jalan berlubang. Seperti, masuk dalam labirin masa lalu keluargaku sendiri.

"Kita sebagai pendatang memang harus tahu diri. Harus bisa menyesuaikan diri dengan para penduduk yang lebih dulu ada," kata seorang bapak tua keturunan Cina-Bali di Banjar Lampu, Desa Catur, Kintamani. Itu berlaku sampai sekarang, di zaman reformasi yang telah membebaskan orang Cina dari kungkungan aturan politik. Padahal, bapak tua tadi telah tiga generasi di Bali dan menjalankan ritual ganda hindu dan Khonghucu. Padahal pula, leluhurnya termasuk pelopor pembuka desa yang awalnya masih hutan itu. Ia bahkan sudah tidak bisa berbahasa Cina lagi. Tapi, ia tetap merasa bahwa dirinya dan keluarganya adalah orang luar yang harus terus berhati-hati.

Narasumber lain di Denpasar juga mengatakan hal yang sama. Bagi seorang bapak pembuat kue yang dipasarkan di warung-warung sekitar rumahnya, menjadi orang Cina harus mampu menumbuhkan kesadaran bahwa diri mereka berbeda dengan masyarakat Bali. "Kadang, orang Cina yang datang belakangan ke Bali ini yang bikin perkara. Kelakuan mereka yang cenderung arogan, asosial dan tidak menghormati komunitas lokal membuat semua orang Cina kena imbasnya,"kata bapak yang aktif dalam kegiatan banjar dan telah menggunakan nama Bali sejak lahir ini.

Jumat, 24 Januari 2014

Balichinesia: Sebuah Studi Praktek Multikulturalisme


Sejarawan Ongokham bikin mata terbuka. Dalam buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa, dia menyebut dirinya sebagai "Orang Indonesia asli keturunan Cina." Aku langsung tercenung. Betapa, selama ini, kata "Cina" yang selalu diartikan  sebagai "orang luar" atau "bukan pribumi asli" menjadi terbalik maknanya di tangan Ongokham.

Membaca buku-buku yang ditulis Ongokham, Ignatius Wibowo, Gondomono, Leo Suryadinata, Myra Sidharta, Parakitri Simbolon, Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lagi penulis dan sejarawan Indonesia, aku mendapatkan satu kesimpulan yang penting: bahwa di Indonesia tidak ada sebenarnya yang disebut sebagai pribumi asli. Genetika orang Cina juga ada dalam darah dan tulang kebanyakan manusia Indonesia, yang bahkan kerap berteriak-teriak tentang keaslian pribuminya.

Kamis, 23 Januari 2014

#1SOL-EFFECT bagian 1: Niat dan Rencana

Satu tawaran diterima dengan beragam sikap. si A mengungkapkan keheranan, "Kok, hadiahnya nggak disebut ya?", sedangkan si B berkata, "kalau ada waktu akan aku kerjakan, waktunya mepet banget soalnya", dan si C bertanya, "Di mana ya bisa mendapatkan pinjaman peralatan yang bagus?"

Aku tak hendak menganalisis atau membanding-bandingkan jawaban itu. Tapi, tertarik untuk menelisik lebih jauh respon dan pertanyaan si C. Menurutnya, dia ingin mengerjakan tawaran itu dengan maksimal. "Tapi, kan hadiahnya nggak jelas?" Nggak penting katanya. Ini sebuah kesempatan baik katanya. "Lagian, anggap saja sebagai latihan berkompetisi,"kata C yakin.

Kemarin, Aku memang mem-forward email teman tentang Kompetisi Film Pendek Fiksi & Dokumenter - STOS 2014 yang bertema "Merawat Harapan Nusantara" ke beberapa teman lain yang aku pikir kompeten. Tengat waktunya memang pendek, 12 Februari ini batas penutupan pendafaran. Hadiahnya juga tidak disebutkan dalam informasi itu.

Dan, tiga respon di atas yang muncul.  Jawaban C menggelitikku. "STOS ini bagus untuk latihan berkompetisi. Saya sudah lihat website-nya." Tapi, ia tidak punya kamera, perekam suara dan alat editing.

Rabu, 22 Januari 2014

Catatan untuk Presiden

 Tuan Presiden yang terhormat,

Sungguh kami tak peduli dengan penyadapan percakapanmu dengan istri dan anak buahmu itu.
Toh, isinya tak penting untuk kami.

Kami juga tak menggubris pernyataanmu "akan berada di garis depan pemberantasan korupsi",
karena kami tahu, itu cuma basa basi di saat barisanmu menggarong negeri ini.

Bahkan, kami tutup telinga ketika kau membanggakan kebebasan beragama di negeri ini.
Karena telinga dan mata kami arahkan pada keluarga Ahmadyah di pengungsian, warga GKI Yasmin sembahyang di pinggir jalan dan kelompok Syah dipaksa mengingkari keyakinan mereka.

Ocehanmu tentang terorisme?

Janjimu untuk menuntaskan kasus Munir?

Komitmenmu untuk mengembalikan saudara-saudara kami yang hilang diculik?

Tak satu pun yang kau tepati!

Kami bosan mendengar ocehanmu.

Tapi,
jangan pernah bicara akan mengangkat mertuamu penjagal manusia itu menjadi pahlawan.

Sungguh jangan!